Tanaman
kopi awalnya dibawa Belanda pada abad XVII melalui Batavia (sekarang Jakarta)
untuk ditanam di Aceh tahun 1908. Kopi yang pertama sekali diperkenalkan adalah
kopi jenis Arabica pertama sekali dibudidayakan di Utara Danau Lut Tawar. Di
dunia, kopi bisa dibedakan menjadi 2 kelompok berdasarkan jenisnya, yaitu kopi
Arabica dan kopi Robusta. Di Aceh kedua jenis kopi ini dibudidayakan oleh
masyarakat setempat.
Kopi
jenis Arabica umumnya dibudidayakan di wilayah dataran tinggi Tanah Gayo,
termasuk Takengon, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues. Sedangkan di Kabupaten Pidie
(terutama wilayah Tangse dan Geumpang) dan Aceh Barat, masyarakat mengembangkan
kopi jenis Robusta. Belanda memerintahkan masyarakat sendiri pada saat itu
mereka menyuruh konsumsi kopi jenis Robusta, sedangkan Arabica untuk dikonsumsi
sendiri (Belanda) dan untuk di ekspor.
Pada
masa Kesultanan Aceh Darussalam, tanaman lada merupakan mata pencaharian utama
sebagaimana padi. Tome Pires (1512-1515) mencatat, pelabuhan Pidie dan Pasai
ketika itu memperdagangkan lada sebanyak 16.000 bahar atau sekitar 2.718 ton
pertahun. Bahkan sampai menjelang akhir abad ke-19 sebelum Belanda menyerang,
Aceh merupakan produsen lada utama di dunia.
Pada
tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Kesultanan Aceh, perang
tersebut berlanjut sampai 1904. Sultan Muhammad Daudsyah ditangkap oleh Belanda
pada Januari 1904, perang besar berakhir tapi perlawanan rakyat Aceh dengan
perang gerilya terus berlanjut sampai Belanda angkat kaki dari Aceh
selama-lamanya di tahun 1942. Perang dengan Belanda telah membuat kejayaan lada
Aceh tinggal kenangan.
Di
Aceh, Belanda menemukan sebuah dataran tinggi luas yang dikenal dengan nama
Tanah Gayo terletak di jantung wilayah ini, yang berdasarkan riset yang mereka
lakukan ternyata sangat cocok untuk ditanami Kopi. Dan dari sinilah keajaiban
itu bermula. Di Tanah Gayo, Belanda membangun basis pemerintahannya
di Takengon yang terletak tepat di tepi danau Lut Tawar yang
permukaannya ada di ketinggian 1250 Mdpl. Belakangan kota ini berkembang
menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan dan menjadi kota terbesar di Tanah Gayo.
Perkebunan kopi pertama yang dikembangkan Belanda di daerah yang
bernama Belang (sebahagian menyebutnya Blang) yang terletak tidak jauh
dari Kota ini. Sampai hari ini, daerah ini dikenal sebagai salah satu daerah
penghasil kopi terbaik di Tanoh Gayo. Dari Belang Gele, Kopi tersebar ke segala
penjuru Tanah Gayo yang berhawa dingin.
Di
tahun 1924 Belanda dan investor Eropa telah memulai menjadikan lahan didominasi
tanaman kopi, teh dan sayuran (John R Bowen, Sumatran Politics and Poetics,
Gayo History 1900-1989, halaman 76). Kemudian, pada Tahun 1933, di
Takengon, 13.000 hektar lahan sudah ditanami kopi yang disebut Belanda sebagai
komoditas “Product for future”.Masyarakat
gayo, tulis John R Bowen, sangat cepat menerima (mengadopsi) tanaman baru dan
menanaminya di lahan-lahan terbatas warga. Perkampungan baru di era tersebut,
terutama di sepanjang jalan dibersihkan untuk ditanami kopi kualitas ekspor.
Sejarah Kopi Robusta Aceh
Biji kopi Robusta dihasilkan
dari biji kopi pilihan berkualitas yang berasal dari Lamno, Kabupaten Aceh
Jaya. Biji-biji kopi tersebut diproduksi oleh usaha-usaha kecil menengah. Oleh penduduk
setempat, bubuk kopi yang berkualitas tinggi ini kemudian diproses secara unik,
sejak dari penggilingan hingga disaring menjadi secangkir minuman dengan cara
yang tersendiri. Inilah sebabnya kopi Aceh, terutama kopi Ulee Kareng ini
kemudian menjelma menjadi ikon Aceh itu sendiri. Kedahsyatan aroma kopi Aceh
ini sudah sejak lama melegenda di Indonesia, dan saat ini sudah pula mendunia
berkat banyaknya penikmat kopi dari kalangan pekerja internasional yang datang
dan tinggal di Aceh selama bertahun-tahun untuk merekonstruksi Aceh pasca
tsunami.
Untuk mendapatkan kualitas dan cita rasa dahsyat
yang unik itu, biji kopi Aceh melalui proses yang panjang. Pertama sekali,
biasanya, biji kopi dioven selama 4 jam penuh. Setelah mencapai kematangan 80%,
biji kopi itu dicampur dengan gula dan mentega dengan takaran tertentu.
Kemudian biji kopi yang telah masak digiling sampai halus. Proses ini
membangkitkan aroma kopi yang kuat, cita rasa bersih serta tidak asam.
Yang membuat kopi Aceh menjadi lebih menarik adalah
cara penyajiannya yang khas yang berbeda dengan cara penyajian kopi di manapun
di seluruh dunia. Kopi diseduh dengan air yang dijaga tetap dalam keadaan
mendidih. Seduhan kopi disaring berulang kali dengan saringan terbuat dari
kain, lalu dituangkan dari satu ceret ke ceret yang lain. Hasilnya adalah kopi
yang sangat pekat, harum, dan bersih tanpa mengandung bubuk kopi.
Sejarah Kopi Arabica Gayo
Setelah Perang Kemerdekaan
Republik Indonesia (1945-1949), Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Republik
Indonesia melalui Perjanjian Meja Bundar (KMB). Seperti yang terjadi di pulau
Jawa, segala aset mereka termasuk perkebunan kopi tinggal di Gayo. Tapi berbeda
dengan di Jawa yang operasional perkebunannya dilanjutkan oleh perusahaan
pemerintah dan pekerjanya tetap dipekerjakan di Jawa. Di Gayo, yang terjadi
berbeda. Setelah Belanda hengkang, kebun-kebun kopi yang tertinggal
dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat, terutama yang sebelumnya bekerja di
sana.
Pemerintah Republik Indonesia
menghadiahkan segala perkebunan kopi di tanah Gayo kepada seorang perwira
militer asal Gayo bernama Ilyas Leubee yang di masa revolusi fisik
menyabung nyawa di medan perang Medan Area. Ilyas Leubee tidak mengambil hadiah
itu untuk dirinya sendiri. membagikannya kepada masyarakat sekitar dan
tidak melanjutkan pengelolaan kebun itu, sehingga pabrik peninggalan Belanda
itupun terbengkalai dan menjadi besi tua sampai sekarang. Mendapati bahwa
ternyata tanaman Kopi sangat menguntungkan. Para petani yang tidak kebagian
kebun kopi pun, mulai menanami lahan-lahan kosong di sekitarnya dengan tanaman
kopi, sehingga saat ini terdapat sedikitnya 90 ribu hektare perkebunan kopi di
dataran tinggi Gayo yang sekarang dipisahkan menjadi tiga kabupaten (Aceh
Tengah, Bener Meriah dan Gayo Luwes). Ini menjadikan dataran tinggi Gayo
sebagai produsen kopi Arabica terbesar tidak hanya di Indonesia, tapi juga
Asia. Karena kebun kopi di Gayo dikelola oleh petani individual dengan
rata-rata kepemilikan lahan maksimum 2 hektare.
Kondisi alam Aceh yang subur, dipadu cuaca yang
mendukung, menjadikan tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang
bermutu tinggi dan menguntungkan. Indonesia merupakan pengekspor biji kopi
terbesar keempat di dunia, dan Aceh adalah salah satu penghasil kopi
terbesarnya yang mampu menghasilkan sekitar 40% biji kopi jenis Arabica tingkat
premium dari total panen kopi di Indonesia.
Fenomena ini terjadi karena Aceh memang memiliki
kebun kopi yang luas membentang di antara pegunungan bukit barisan meliputi
wilayah kabupaten Aceh Tengah yang memiliki luas 48.500 hektare kebun kopi,
Bener meriah 39.000 Hektare dan gayo luwes seluas 7.000 hektar. Total kebun
kopi daratan tinggi gayo sekitar 94.5000 hektare yang kebanyakan ditanami jenis
kopi arabica dengan hasil produksinya mencapai 50.774 ton per tahun.
Dengan luasnya perkebunan yang dimiliki aceh,
wajar bila Aceh termasuk sebagai salah satu pemasok terbesar kebutuhan kopi
arabika di dunia dan penghasil kopi terbesar di Asia. Jenis kopi arabica yang
dikembangkan petani di daratan tinggi gayo memiliki tekstur yang halus dan
bercita rasa paling berat serta kompleks.
Sayangnya saat ini merk Kopi Gayo terdaftar dalam
undang-undang Belanda atas nama Holland Coffee yang secara terang-terangan
melarang orang lain menggunakan kata Gayo pada merek kopinya. Padahal Gayo
sendiri merupakan sebuah wilayah geografis yang dimiliki oleh Indonesia bukan Belanda.
Sumber :
infokopikita.blogspot.com


Komentar
Posting Komentar